Tentang Bismar, Osamah, dan Lukisan

Desy, Dory, Kelly, Alfo, empat cihuahua, serta Nicky dan Brownie, dua anjing jenis pom terus menyalak dari kandangnya ketika para pewarta memasuki Pondok Lukisan Bismar Siregar. Mereka sadar, yang berkunjung bukan sang majikan, mantan Hakim Agung.

“Kalau orang lain yang datang, mereka gonggong. Kalau bapak (yang datang), enggak,” Irwan Siregar putra kelima almarhum Bismar menjelaskan, Kamis 19 April 2012. Kini, keenam anjing itu tak akan lagi mendapati Bismar di hadapan mereka. Siang tadi pukul 12.20 WIB, pria 84 tahun tersebut telah berpulang kepada Pencipta.

Bukan hanya warisan ketegasan dan kejujuran sebagai hakim yang dia tinggalkan. Tapi juga 300 lebih lukisan di pondok itu dan 150 yang disumbangkan ke Rumah Sakit Husada Utama, Surabaya.

Irwan bilang, ayahnya giat melukis sejak pensiun dari hakim agung tahun 1995. Bisa tiga lukisan dibuat kakek 14 cucu itu dalam sehari. “Lukisan bertambah terus, sampai saya bingung dimana menyimpannya,” kata Irwan.

“Ada lukisan yang mengikuti gambar foto, ada yang inspirasinya dari perjalanan bapak,” ucap Novi, menantu Bismar. Seluruh lukisan Bismar yang dipajang di pondok lukisnya, Jalan Cilandak I nomor 25 Jakarta Selatan, adalah lukisan pemandangan. Aneka ukuran kanvas ada. Terlukis gunung, pepohonan, jalan, padang rumput, tebing, rumah, dan lautan di atasnya. Sebuah buku persegi kecil merangkum lukisan Bismar. Judulnya, Kumpulan Sapuan Kuas Bismar Siregar, diterbitkan tahun 2004.

Lukisan terakhir Bismar meniru sebuah kliping foto dari koran Kompas. Foto itu karya Tiki J. Boediono, berjudul “Pimpin Langkahku Bapa”. Lukisan nampak serupa dengan foto di guntingan tersebut. Lukisan berukuran 30×40 centimeter itu masih berbau cat. Objeknya nampak serupa dengan foto di guntingan koran tersebut. Ada jalan tanah setapak berwarna coklat, terlukis horizontal. Semakin ke ujung kiri, jalan tampak semakin menyempit.

Di kedua sisi jalan, pohon-pohon tinggi menjulang. Dedaunan pohon berwarna hijau, ungu, kuning samar. Ada rerumputan liar lebat di bawahnya. Sementara langit kelabu menggantung di atas. Goresan cat timbul di sana-sini masih lunak, belum mengeras.

Irwan menyebut, lukisan ayahnya itu belum selesai. “Baru 80 persen,” katanya sambil membandingkan dengan kliping foto.

Di antara semua lukisan pemandangan, satu-satunya objek orang yang pernah dilukis Bismar adalah Osamah bin Laden. Lukisan itu dibuat 21 Oktober 2001. Hanya ada wajah Osamah dengan surban putih di kanvas berbingkai itu. Latar belakangnya kelabu. Di balik lukisan itu terdapat tulisan tangan, “Osamah bin Laden menuju surga? Allah bersama hamba yang berpegang teguh pada talinya. 21 oktober 2001. Bismar Siregar.”

Sayang, bahkan sang anak tidak tahu alasan ayahnya melukis Osamah. “Anda jawablah sendiri,” ucap Irwan. Ia juga belum tahu akan diapakan semua lukisan itu. “Sekarang kami pikirkan bagaimana nasib lukisan ini. Sudah tidak mungkin bertambah,” katanya.

Pak Raden Mencari Hak Cipta Unyil

Akbar, 7 tahun, dan Raisa, 4 tahun, agak kecewa. Sore ini, Sabtu 14 April 2012, mereka terpaksa batal menyaksikan Pak Raden melukis. Alhasil, kakak-beradik itu pulang hanya dengan mengantongi kaos bergambar Pak Raden yang dibeli dari panitia penggalangan dukungan buat Pak Raden.

Ketika mengunjungi rumah petak Pak Raden di Jalan Petamburan III nomor 27, Slipi, Jakarta Barat, sore ini mereka bahkan tak dapat bertemu sosoknya. Rumah itu penuh sesak. Bukan cuma karena boneka Unyil cs ataupun tumpukan buku dan koran, tapi juga karena wartawan dan anak-anak berdesakan di rumah tiga kamar tersebut. Pak Raden sedianya akan ‘ngamen’ sebagai upaya mendapat sokongan dalam memperjuangkan hak cipta atas Unyil. Yang terjadi malah konferensi pers berkepanjangan hingga petang.

Mereka yang hadir mendengar keluh kesah Pak Raden soal royalti, atas tokoh Unyil ciptaannya, tak kunjung di tangan. Walaupun karakter Unyil sangat tenar di seantero Tanah Air, Pak Raden sebagai penciptanya tidak merasai kesejahteraan yang layak. Rumah yang dia huni sekarang adalah milik kakaknya.

Di sana Pak Raden hidup sendiri, tanpa istri dan anak. Hanya Madun, pria 47 tahun, asisten rumah tangga yang mengurus kebutuhan Pak Raden sehari-hari, seperti memasak dan mencuci. Usia sepuh begini, pria bernama asli Suyadi itu harus membawa kursi roda untuk bepergian. Biasanya, kemana-mana ia diantar Nana Ruslana, asisten lainnya.

Kata Nana, Pak Raden hanya menahan sakit encoknya untuk berdiri ketika mendongeng atau melukis di depan anak-anak. “Cuma tahan berdiri kalau manggung dongeng atau melukis,” ujar Nana ketika ditemui di kediaman Pak Raden. Kata dokter, kaki kiri pria 79 tahun tersebut sudah tak punya ‘pelumas’. Maka ketika tungkai paha dan dengkulnya bertemu, akan terasa sakit. Maka tongkat yang selalu dibawanya bukan properti, tapi memang penyangga.

Dalam surjan merah marun dan blangkon, Pak Raden bercerita, royalti Unyil hanya ia nikmati ketika program itu masih diproduksi. “Setelah itu tidak dapat apa-apa,” kata dia di hadapan kamera pewarta.

Selama ini ia juga tidak berupaya meminta royalti. “Tidak. Saya belum pernah mengajukan. Kepada siapa?” ucapnya. Ia merasa bukan pegawai Perusahaan Film Negara, produsen program Unyil tahun 1979.

Meski, pada Desember 1995, Pak Raden memang pernah menandatangani perjanjian dengan PFN. Isinya, menyerahkan kepada PFN untuk mengurus hak cipta atas boneka Unyil. “Untuk menggampangkan menertibkan iklan-iklan yang menggunakan tokoh-tokoh Unyil,” ia mengenang. Namun, perjanjian itu hanya berlaku selama lima tahun sejak ditandatangani. Artinya, setelah lima tahun, publikasi Unyil bukan milik PFN lagi.

Tetapi, menurut Pak Raden, beberapa hari setelah tanda tangan surat pertama, perjanjian serupa muncul dengan tanggal yang sama, 14 Desember 1995. Bedanya, perjanjian baru itu tidak mencantumkan batas masa berlaku.

Pada 23 Desember 1998, Pak Raden menandatangani surat penyerahan hak cipta atas 11 lukisan boneka termasuk Si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah dan lain-lain. Ternyata, pada 15 Januari 1999, PFN mendapat surat penerimaan permohonan pendaftaran hak cipta dari Direktorat Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek Departemen Kehakiman atas 11 tokoh itu. Walau begitu, Pak Raden tidak dapat royalti.

Akmal Naseri Basral, novelis yang hadir untuk mendukung Pak Raden, mengatakan, seharusnya hak cipta itu masih berlaku bahkan hingga 50 tahun setelah si empunya karya wafat. “Itu ada dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2003 tentang hak cipta,” kata dia. Menurut Akmal, seharusnya hal ini diakomodasi Kementerian Ekonomi Kreatif.

Sementara itu, Pak Raden menyambung hidup dengan menjadi pendongeng dan pelukis sepanjang vakumnya dari program televisi Unyil. Ini masih dilakoninya hingga tengah tahun lalu. Menurut Cusnato, pria berkumis itu mendongeng dari sekolah ke sekolah, festival ke festival. Sekali dongeng, ia dibayar Rp. 3,5 juta sampai Rp. 5 juta. Dalam sebulan, intensitas naik panggung bervariasi. “Bisa sebulan 3 kali,” kata Cus.

Sekarang, Pak Raden lebih fokus membuat lukisan menyambut Hari Anak Nasional, Juni mendatang. Ia masih produktif. Materi memang bukan satu-satunya yang diresahkan Pak Raden, tapi penghargaan atas karyanya. “Usia saya seperti matahari terbenam. Alangkah senangnya sebelum terbenam itu ada hadiah hak cipta,” katanya berkaca-kaca.

surat-surat

Banyak kali saya dapat hadiah seumur hidup. Tapi yang paling saya ingat adalah hadiah surat-surat dari para panutan saya. Ehm, bukan, Rasulullah sudah jauh lebih dulu mengirim surat-suratnya. Kali ini dari manusia-manusia yang masih bisa saya temui.

Pertama dulu, sebuah surat untuk menasihati saya di tanggal lahir ketika SMP. Kalau diingat lagi sekarang, saya merasa itulah hadiah paling berharga di masa lepas kanak-kanak. Paman saya memberi wejangan tertulis pertama pada saya yang remaja. Surat itu jadi menyejarah. Sangat, benar-benar seperti penandaan sejarah itu sendiri, masa ketika saya “mengenal tulisan”.

Baru ini, saya terenyuh karena sejarah itu berulang. Sekarang juga ketika saya tiba pada fase hidup baru, (harus) dewasa. Surat-surat lagi dari seorang guru. Saya bingung bagaimana bilang bahwa saya sangat berterima kasih karena beliau peduli. Momentumnya, saat saya kurang peduli pada diri sendiri.

Saya ingat-ingat lagi, hadiah paling berkesan dan membekas adalah yang berbentuk tulisan-tulisan itu. Mungkin karena mereka tak membelinya di toko. Kata-kata itu adalah kerajinan tangan mereka untuk saya. Surat dari Om Din, dari Bela, dari Mba Lintang, dari Pak Yusuf akan selalu saya simpan sebagai penanda-penanda. Seperti menandai pohon dalam perjalanan.

Akhirnya, saya menyarankan diri untuk menyelipkan hadiah berupa surat lain kali. Karena memang benar, kata-kata lewat bicara berlalu bersama angin, tapi yang tertulis tinggal di kertas dan di pikiran manusia.

fail

I fail. Maybe this was the main reason of me missing home so much lately. Finally I’m going to go home soon. Let us continue life.

kerja hobi – hobi kerja

Diskusi dengan Pani tadi harus saya abadikan di sini. Panjang banget kami cerita soal kerja dan hobi. Intinya:

(1) Kalo hobi jadi kerja rasanya beda, karena ada unsur paksaan.
(2) Tapi secara matematis, waktu kita setiap hari sebagian besar dihabiskan untuk bekerja. Bukan untuk menyalurkan hobi.
(3) Maka, kalau kerja tidak sama dengan hobi alangkah kasihan sang pekerja itu.
(4) Karena upaya untuk menikmati kerja jadi luar biasa besar.

Entah pekerjaanmu adalah hobi atau bukan, selamat menyambut hari kerja besok, temans :D !

orang-orang yang menetap

inilah kenapa menikah itu punya persamaan frase settle down dan tie the knot dalam bahasa inggris. karena orang yang belum menikah itu terombang-ambing labil. saat menikah, mereka jadi menetap, settled dan stabil, tied.

banyak jalan hidup tampak menarik, seru, dan terpenting, benar. tapi bagaimana kita tahu mana di antara yang banyak itu paling sesuai untuk kita?

suatu jalan baru bisa dirasai ketepatannya buat kita, ketika kita hidup tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan juga ‘untuk’ orang lain, bersama orang lain. kita mendapati suatu jalan semakin benar, mantap, karena yakin kemanfaatannya luas.

maka segala risiko yang kita hadapi, positif atau bukan kejadian-kejadian di depan bakal terasa berharga dan tanpa sesal, karena kita tahu kita telah mengambil keputusan berdasar pertimbangan kemaslahatan bagi banyak orang. kita berangkat dari pijakan yang mantap.

selamat buat sahabatku! selamat menetapi hati dan langkah baru. ketetapan hati untuk bermanfaat bagi kalian satu sama lain bakal membawa manfaat super luas, insyaLlah ya!

super-prior-iority

my biggest expectation about this sort of walk of life is zero superiority. before my further rumble, i’m going to get something straight: i still consider it usual to have an advice from those sailors who sailed earlier. i do need help from my betters, seniors, priors, of course.

it’s just, i can tell, i know when it gets blast, especially for whom i do not share roof. because when you are a new kid on the block, the deep-rooted dwellers are in some kind of contest to tell you the do’s and dont’s. whereas, you can see that they actually take their freshmen year anger out on you. they used to be a laughingstock rookie, and that’s what they want you to be like. otherwise they’ll perceive it perfectly unfair.

is this me going too much or the facts just speak on its behalf? i may be a childish, but no kind of soap actress. what should i call questions been asked to me which inquirer truly already know the answer? how should i name a situation when everyone wanted to know my endurance taking their practical joke? trial, as brief answer, will do.

i know, i should have never grumbled anything about this. no pointing on scapegoat because this should be counted as a matter of risk-taking (whether i realized or not have taken). this is an item of widening comfort, or growth, or whatsoever zone. :|

waktu bermain

balik ke kos jam setengah delapan malam itu seneng banget! itulah yang terjadi kira-kira dua pekan lalu. lalala lalaaa.. saya melangkah menutup pagar di belakang saya dengan gembira.

seingat saya, pagar itu tidak berisik, rumah ini pun tidak dilengkapi alarm “detektor-saya-datang”. tapi makhluk mungil itu mencuat dari balik pintu kayu, dia seolah mengendus keberadaan saya, seperti biasa. seperti pagi-pagi ketika saya akan berangkat membelah kota ini *lebai* *keplak*. dengan senyum ceria dan terkikik dia berseru riang, “tante :D !”

“am i that old, kiddo?” kata saya dalam hati, pasrah. okei, that’s not the point. you’re that (underlined) old, wiw –,– here’s the real shot: “tante masuk dulu ^^,” bicaranya Ella, gadis cilik itu. si bocah TK lantas mengajak saya bermain ke dalam rumahnya, rumah ibu kos. yap, dia putri kedua bu Dian, pemilik kos.

dalam hati lagi, “ouch,” kata saya. udah balik ke kos cepet mau guling-guling tepar malah diajak main. tapi hati saya cepat-cepat protes. “eits, gimana kalo punya anak nanti? diajak main malah begini reaksinya?” poor be upon such children. nah, kalo sudah begini saya selalu khawatir soal bekerja.

didukung pula oleh Najwa, kakak Ella yang sudah kelas 1 SD, masuklah saya dan bermain bersama mereka. dari main yang enggak penting sampe yang bikin mereka pusing, hihihihi.. ternyata ujung-ujungnya saya yang senang main bareng.

berapa saat main dengan mereka, saya jadi sadar, stok mainan saya dengan anak-anak sudah merosot tajam. saya banyak lupa tebakan, cerita, dan lagu anak yang dulu pernah saya hafal buat kegiatan PKM. “fyuhuhu.. kalau ada Sophie Amundsen di sana saat itu, saya mungkin bakal dibilang mirip ibunya,” pikir saya. setelah mati gaya bercerita, akhirnya saya keluarkan jurus pamungkas : bikin foto seribu pose bareng mereka. lame!

sepertinya saya harus berbenah. lain kali mungkin bisa baca buku bareng. atau apa kek, main di Encarta mungkin. saya sampai pada poin klise, jadi orang tua bekerja itu tidak mudah. that would make a terrible parenting. pusing *___*

nih dia bocahs ♥ :)