hidup!

Untuk Sebuah Pernikahan

Seingat saya, April 2011, pertama kali saya kenal Fransisco Rosarians Enga Geken, Martha Ruth Thertina, dan Prihandoko. Kami sedang duduk menunggu giliran wawancara di lobi sebuah kantor Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Saya lupa siapa yang memulai percakapan lebih dulu. Yang saya ingat, tau-tau kami sudah saling menanyakan latar belakang masing-masing. FREG yang asli Flores lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, tinggal di Bekasi. Martha, cewek Batak, alumni Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, berumah di Bogor. Pri dari Gombong, juga alumni UI, jurusan Ilmu Sejarah, tinggal di Depok.

Ternyata kami semua diterima di kantor tadi. Ditambah Indra Wijaya asli Solo, yang saya kenal belakangan, kami jadi satu angkatan. Kami tidak dekat, (setidaknya saya, ding :P) cuma kadang-kadang kumpul kalau ada waktu kosong yang bisa dipersatukan di tengah perbedaan liputan, rapat kompartemen, pergaulan, dan kemageran. Kami tidak saling curhat (gw aja kali ya, haha!) cuma entah kenapa saya merasa punya ikatan emosional dengan mereka. Mungkin karena kami mulai menceburkan diri ke dunia kata dari garis start yang sama, berada dalam sistem yang sama, merasakan pasang-surut yang sama.

Tanggal 3 September ini, Pri menikahi perempuan pilihannya. Saya merasa seharusnya saya berada di sana merayakan kebahagiaan mereka. Pri dan saya memang tidak akrab, malah sulit akrab karena Pri perokok berat, sementara saya tidak tahan dengan asap rokok. Biasanya Pri menyembunyikan asap rokoknya pas ngobrol sama saya. (Tetep aja tercium bau asapnya, Prik!) misalnya waktu nongkrong di roti bakar, atau di ngumpul di pintu masuk kantor Velbak, atau ketika dia dan Martha jenguk saya di kos waktu saya kena cacar. Jadi, bisa dibayangkan saya senang luar biasa pas tau Pri berhenti merokok dan kecewa banget pas tau dia merokok lagi. Hidup memang rollercoaster yak 🙂

Hal lain yang berlawanan juga kesukaan kami. Pri gigih naik gunung, saya lebih pilih santai-santai di pantai. Itu baru perbedaan remeh saja, masih banyak perbedaan kami berlima yang kalo mau dicari-cari bisa jutaan (ngik.). Namun tentu semuanya tidak menghalangi kami untuk berteman sampe sekarang sudah berpencar (asek!). Saya masih ingat protes Pri dan FREG waktu saya tidak cerita rencana menikah sejak jauh-jauh hari, sehingga mereka tidak bisa datang. (Eh kalian wartawan gajinya kecil kan? Keliatan dari mukanya. Mana bisa traveling sampe Lombok! Wkwkwk ;P) Alhasil Pri cuma BBM (jadul yak) saya di H-1 malem-malem, mendoakan yang terbaik.

Karena itu, seperti halnya ketika menyaksikan Pri memulai karirnya, saya harap bisa menyaksikan pula milestone hidup baru Pri ini. Sayang sekali saya hanya bisa minta foto dan video nikahannya dari temen-temen, juga tentu mengirim doa, mengharap kebaikan yang bertambah-tambah bagi Pri dan Melati. Semoga kalian tidak pernah menyerah pada satu sama lain, apapun yang kalian hadapi.

Hey punya gak sih, teman-teman yang tumbuh dan menjauh? (Iyain aja xD) Hanya saja, pada suatu waktu kita pernah menjadi tunas-tunas kecil yang berbaris bersama.

Iklan
hidup!

Rekaan Rindu Radmah

Nik tuan, belakangan ini di desa kita jarang yang menjual ikan
Nelayan-nelayan tidak berani melaut
Sering hujan sangat deras dan angin bertiup sangat kencang
Atap-atap rumah tetangga kita beterbangan

Nik tuan, saya sendiri di rumah besar kita, mendengar kemarahan hujan dan angin itu
Tidak lah. Tidak mau lama-lama di rumah anak-anak

Oh ya. Mata kanan saya masih tak bisa melihat
Nik tuan tahu, anak-anak mencegah saya operasi katarak
Kata dokter, berisiko buat penderita diabetes
Padahal saya ingin benar-benar melihat cicit-cicit kita

Tadi Hamka datang ke rumah
Dia ikut mamak dan niniknya mau ke sembilan hari meninggalnya Kake Nasir
Hamka pinjam sepeda cucu tetangga
Tentu saja dia cuma didudukkan di sadel
Belum sampai kaki kecilnya itu untuk menggoes

Oh ya. Nik tuan sudah bertemu Kake Nasir di sana?

IMG-20170311-WA0028

hidup!

hari ini tahun lalu

 

jam tangan pink yang sudah menemani saya bertahun-tahun yang kulitnya buluk udah retak-retak tertinggal di musholla lantai lima.

saya baru sadar jam 9 malam, pas mau pulang.

buru-buru ngecek di musholla yang udah gelap, nihil.

mungkin si pinky buluk mau tinggal di sana.

biar tuannya saja yang meninggalkan kantor itu seterusnya.

 

hidup!

ugly truth

“sepuluh ribu,” kata seorang ibu gemuk yang menghentikan mobil kami di pagar masuk menuju Senggigi.

rerumputan di bawah pohon-pohon kelapa tempat kami sering piknik dulu, sekarang sudah jarang-jarang. gantinya tumpukan sampah aneka rupa, dari plastik sampai kotoran kuda.

warung bambu di tepi pantai yang dulu cuma satu, dua, sudah beranak-pinak berjajar menutupi bibir pantai.

sekarang juga ada lebih banyak anjing di pantai ini. oh, mereka pasti mengais makanan dari tumpukan sampah tadi.

ombak tidak pernah semarah ini. air yang dulu biru, dia keruhkan. hei ombak, muntahkanlah kulit-kulit kerang cantik lagi! tidak ada jawaban.

ada satu anjing tergolek di pinggir jalan raya. bukan sedang menikmati sinar matahari jam delapan pagi. sedang menahan sakit.

hidup!, untuk mereka

Obituari

Bukan kematian Lee Kuan Yew. Tapi orang ini tidak kalah penting bagi seisi penghuni kantor Velbak. Kami memanggilnya Babe genset. Saya tidak tahu nama aslinya M. Arsad sampai tiba di pusaranya siang itu, 23 Maret 2015.

Sejak pagi, rombongan melayat Babe berkumpul di lobi. Kami bertukar cerita mulai dari kronologi Babe jatuh di kamar mandi sampai kenangan masing-masing bersama Babe.

Saya ingat terakhir kali jalan bareng Babe sepekan lalu, ketika keluar dari Halte Transjakarta Kebayoran Lama. Waktu itu Babe baru beli makan siang di warung seberang halte. Saya sengaja tidak langsung menyapa Babe. Saya memilih iseng jalan berjingkat di belakangnya lalu tiba-tiba mengagetkan. Berhasil, hehe.. Babe senyum-senyum saja, karena memang seperti itulah komunikasi kami biasanya.

Bertemu Babe tidak bisa mempertahankan muka manyun. Menyapa Babe di lobi berarti menyunggingkan senyum. Sebuah “sial” bagi pencemberut seperti saya. Tapi itu sekaligus terapi yang mujarab karena senyum seringkali bertahan beberapa menit berikutnya.

Interaksi saya dengan Babe mungkin tidak sesering penghuni Velbak lain. Saya bukan anak gaul yang sering nongkrong di warung Ibu, pos satpam, ataupun pintu depan kantor. Tapi memang kecil kemungkinan melewatkan pertemuan dengan Babe kalau piket malam atau memilih berada di kantor sampai malam.

Kalau sudah begitu, Babe menemani saya menyusuri area parkir kantor sampai jalan besar. Meski bukan satpam, Babe yang menunggui sampai angkot D01 berhenti di depan saya. Babe pun menepuk pintu angkot dan memberi isyarat pada sopir. Seolah meminta sopir mengantar saya dengan selamat.

Semua kenangan dengan Babe langsung menyergap ketika saya sampai di makamnya. Menertawakan acara hiburan televisi bersama di lobi, bertukar komentar tentang talkshow politik, nonton film action jadul, berbagi kue pernikahan, sampai sekadar candaan kecil.

Saya tidak pernah tahu tempat Babe tidur selama di kantor. Kata Gendar si resepsionis, Babe tidur di kursi lobi. Saya tidak percaya. Tapi mendengar cerita istri dan anaknya bahwa Babe jarang pulang, bisa jadi itu benar. “Pulangnya 2-3 jam, terus ke kantor lagi,” kata putri kedua Babe ketika kami berkunjung ke rumahnya sepulang dari makam.

Sepertinya memang tidak ada yang menggantikan Babe mengoperasikan genset milik Pak Gunadi, bosnya. Putri Babe lanjut bercerita betapa lamanya Babe menjaga genset. Semua dimulai dari menjadi pesuruh Pak Gunadi. Babe kemudian dipercaya mengoperasikan genset di kantor penyewa, Tempo salah satunya. “Di tempat lain Babe paling cuma 1-2 tahun. Babe paling lama di Tempo, 14 tahun,” kata Yuli, putri sulung Babe.

Babe dan Tempo sudah jadi keluarga. Dari TH sampai carep baru, Babe kenal. Kata OB, TH beruntung karena masih ngobrol lama dengan Babe pada Jumat malam, sehari sebelum jatuh di kamar mandi. Mungkin karena itu, Babe jadi tidak dekat dengan Pak Gunadi lagi dan tidak dapat santunan. “Yang ketemu saya perwakilan Pak Gunadi, ngasi duit gaji terakhir. Duitnya enggak diamplop, cuma dikepel. Apa bapak saya bukan manusia?” cerita Yuli sambil menghapus linangan air mata, saat kami ngobrol di makam.

Tempo pun tak sempurna memperhatikan Babe. Pertolongan untuk Babe bisa dibilang terlambat. Babe jatuh di kamar mandi depan kantor Sabtu subuh, hari ketika deadline dipercepat, sebagian besar awak kantor libur. Kepalanya terbentur dudukan toilet. Noto, OB, membawa Babe ke kursi lobi depan. Noto yang tadinya akan buang sampah, meninggalkan Babe sebentar. Waktu dia kembali, Babe jatuh lagi dengan posisi bahu bersandar di dinding. Rupanya Babe tadi berusaha berdiri.

Pak Beni, sopir, kemudian mengantar Babe pulang ke rumahnya di Cengkareng. Sewaktu keluarga berusaha memasukkan Babe ke ICU, RSUD Cengkareng minta jaminan uang tunai Rp 70 juta. Yuli pontang-panting mencari Pak Gunadi, juga ke kantor Tempo di malam hujan lebat campur kilat. Nihil. Rupanya Pak Aep dari Bagian Umum Tempo sedang sibuk mengurus pindahan kantor dari Velbak ke Palmerah sehingga tidak lekat memantau hapenya. SMS dari Yuli tidak berbalas.

Kata Yuli, cukup lama berselang, barulah dia dan Pak Aep bersama mengusahakan perawatan untuk Babe. Menurut Pak Aep, MTQ via telepon sudah mengizinkan untuk menjadikan nama Tempo sebagai jaminan rumah sakit. Yuli sempat menunjukkan pada kami rekaman video ketika Babe sedang kesakitan. Sebuah alat bantu pernafasan melekat di hidungnya. Mengenakan kaus kuning, Babe yang tidak sadar diri tampak menggerakkan kepalanya ke kanan ke kiri.

Cerita selanjutnya, ternyata sudah sampai di hari itu, Senin lepas subuh. “Pak, bapak saya sudah enggak ada,” pesan Yuli kepada Pak Aep. Babe sudah pergi. Meski sempat mengungkapkan kekecewaan, Yuli mengaku sudah mengikhlaskan Babe bersama proses yang dia lalui. Tinggal doa dan permohonan mengingatkan kalau-kalau Babe punya utang.

Setelah kepergian Babe, saya baru tahu kalau ternyata Babe tidak akan ikut kami ke Palmerah. Kantor Palmerah sudah punya genset sendiri, tidak perlu sewa. Mungkin juga ini di balik terus tertundanya perpindahan kantor kami, supaya Babe bisa terus bersama kami sampai akhir usianya. Mungkin.

Selamat istirahat Babe. You made beyond a genset operator. Semoga Babe sedang tersenyum di tempat yang terang, jauh lebih terang dari lampu-lampu yang dinyalakan dengan genset Babe.

hidup!

Cinta itu Anomali

MERAPIKAN KENANGAN

wedding_rings_by_andrewishy

Orang bilang aku pujangga
Tapi kau tak pernah terkesan dengan puisi-puisiku
Di muka bumi ini, ada orang-orang yang mencari bukuku ke berbagai toko buku atau ke mana saja tapi tak juga jumpa
Sementara kau, yang kuhadiahi lebih dulu kini lupa menaruhnya di mana

Aku tak mengerti.

Barangkali begitulah cinta. Ia terbang jauh melintasi batas kekaguman, terbenam dalam melampaui dasar samudera ketertarikan, dan kadang, membeku sekaligus bisu melebihi tenangnya batu kebanggaan.

Ia, seperti seringkali kubilang, lebih mirip darah: tak kita minta, tak kita rasa, tapi diam-diam menghidupi.

Itu sebabnya sesekali kita perlu terluka. Itu sebabnya sesekali kita perlu kehilangan.

Lihat pos aslinya 85 kata lagi