hidup!

Rumah

Perasaan yang gak pernah saya sangka bakal punya: bahagia tak terhingga melihat teriknya sinar matahari, mau nangis pas lihat iklan Wonderful Indonesia, jumawa karena orang Indonesia yang super heterogen ini ternyata betul-betul kaya dalam segala hal.

Iklan
hidup!

(dikosongkan)

Kalau janji surga tidak menjawab segalanya, apakah saya mengkhianati tuhan saya?

Apakah ibadah tanpa konsentrasi itu patut dijalani?

Kenapa media sosial harus ada?

Hahaha.

Kenapa saya tidak menulis hal bermanfaat saja daripada bertanya begini?

Atau semuanya cukup ditertawai saja?

Hahaha.

hidup!

Untuk Sebuah Pernikahan

Seingat saya, April 2011, pertama kali saya kenal Fransisco Rosarians Enga Geken, Martha Ruth Thertina, dan Prihandoko. Kami sedang duduk menunggu giliran wawancara di lobi sebuah kantor Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Saya lupa siapa yang memulai percakapan lebih dulu. Yang saya ingat, tau-tau kami sudah saling menanyakan latar belakang masing-masing. FREG yang asli Flores lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, tinggal di Bekasi. Martha, cewek Batak, alumni Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, berumah di Bogor. Pri dari Gombong, juga alumni UI, jurusan Ilmu Sejarah, tinggal di Depok.

Ternyata kami semua diterima di kantor tadi. Ditambah Indra Wijaya asli Solo, yang saya kenal belakangan, kami jadi satu angkatan. Kami tidak dekat, (setidaknya saya, ding :P) cuma kadang-kadang kumpul kalau ada waktu kosong yang bisa dipersatukan di tengah perbedaan liputan, rapat kompartemen, pergaulan, dan kemageran. Kami tidak saling curhat (gw aja kali ya, haha!) cuma entah kenapa saya merasa punya ikatan emosional dengan mereka. Mungkin karena kami mulai menceburkan diri ke dunia kata dari garis start yang sama, berada dalam sistem yang sama, merasakan pasang-surut yang sama.

Tanggal 3 September ini, Pri menikahi perempuan pilihannya. Saya merasa seharusnya saya berada di sana merayakan kebahagiaan mereka. Pri dan saya memang tidak akrab, malah sulit akrab karena Pri perokok berat, sementara saya tidak tahan dengan asap rokok. Biasanya Pri menyembunyikan asap rokoknya pas ngobrol sama saya. (Tetep aja tercium bau asapnya, Prik!) misalnya waktu nongkrong di roti bakar, atau di ngumpul di pintu masuk kantor Velbak, atau ketika dia dan Martha jenguk saya di kos waktu saya kena cacar. Jadi, bisa dibayangkan saya senang luar biasa pas tau Pri berhenti merokok dan kecewa banget pas tau dia merokok lagi. Hidup memang rollercoaster yak 🙂

Hal lain yang berlawanan juga kesukaan kami. Pri gigih naik gunung, saya lebih pilih santai-santai di pantai. Itu baru perbedaan remeh saja, masih banyak perbedaan kami berlima yang kalo mau dicari-cari bisa jutaan (ngik.). Namun tentu semuanya tidak menghalangi kami untuk berteman sampe sekarang sudah berpencar (asek!). Saya masih ingat protes Pri dan FREG waktu saya tidak cerita rencana menikah sejak jauh-jauh hari, sehingga mereka tidak bisa datang. (Eh kalian wartawan gajinya kecil kan? Keliatan dari mukanya. Mana bisa traveling sampe Lombok! Wkwkwk ;P) Alhasil Pri cuma BBM (jadul yak) saya di H-1 malem-malem, mendoakan yang terbaik.

Karena itu, seperti halnya ketika menyaksikan Pri memulai karirnya, saya harap bisa menyaksikan pula milestone hidup baru Pri ini. Sayang sekali saya hanya bisa minta foto dan video nikahannya dari temen-temen, juga tentu mengirim doa, mengharap kebaikan yang bertambah-tambah bagi Pri dan Melati. Semoga kalian tidak pernah menyerah pada satu sama lain, apapun yang kalian hadapi.

Hey punya gak sih, teman-teman yang tumbuh dan menjauh? (Iyain aja xD) Hanya saja, pada suatu waktu kita pernah menjadi tunas-tunas kecil yang berbaris bersama.

hidup!

Rekaan Rindu Radmah

Nik tuan, belakangan ini di desa kita jarang yang menjual ikan
Nelayan-nelayan tidak berani melaut
Sering hujan sangat deras dan angin bertiup sangat kencang
Atap-atap rumah tetangga kita beterbangan

Nik tuan, saya sendiri di rumah besar kita, mendengar kemarahan hujan dan angin itu
Tidak lah. Tidak mau lama-lama di rumah anak-anak

Oh ya. Mata kanan saya masih tak bisa melihat
Nik tuan tahu, anak-anak mencegah saya operasi katarak
Kata dokter, berisiko buat penderita diabetes
Padahal saya ingin benar-benar melihat cicit-cicit kita

Tadi Hamka datang ke rumah
Dia ikut mamak dan niniknya mau ke sembilan hari meninggalnya Kake Nasir
Hamka pinjam sepeda cucu tetangga
Tentu saja dia cuma didudukkan di sadel
Belum sampai kaki kecilnya itu untuk menggoes

Oh ya. Nik tuan sudah bertemu Kake Nasir di sana?

IMG-20170311-WA0028

hidup!

hari ini tahun lalu

 

jam tangan pink yang sudah menemani saya bertahun-tahun yang kulitnya buluk udah retak-retak tertinggal di musholla lantai lima.

saya baru sadar jam 9 malam, pas mau pulang.

buru-buru ngecek di musholla yang udah gelap, nihil.

mungkin si pinky buluk mau tinggal di sana.

biar tuannya saja yang meninggalkan kantor itu seterusnya.

 

hidup!

ugly truth

“sepuluh ribu,” kata seorang ibu gemuk yang menghentikan mobil kami di pagar masuk menuju Senggigi.

rerumputan di bawah pohon-pohon kelapa tempat kami sering piknik dulu, sekarang sudah jarang-jarang. gantinya tumpukan sampah aneka rupa, dari plastik sampai kotoran kuda.

warung bambu di tepi pantai yang dulu cuma satu, dua, sudah beranak-pinak berjajar menutupi bibir pantai.

sekarang juga ada lebih banyak anjing di pantai ini. oh, mereka pasti mengais makanan dari tumpukan sampah tadi.

ombak tidak pernah semarah ini. air yang dulu biru, dia keruhkan. hei ombak, muntahkanlah kulit-kulit kerang cantik lagi! tidak ada jawaban.

ada satu anjing tergolek di pinggir jalan raya. bukan sedang menikmati sinar matahari jam delapan pagi. sedang menahan sakit.