hidup!

Rekaan Rindu Radmah

Nik tuan, belakangan ini di desa kita jarang yang menjual ikan
Nelayan-nelayan tidak berani melaut
Sering hujan sangat deras dan angin bertiup sangat kencang
Atap-atap rumah tetangga kita beterbangan

Nik tuan, saya sendiri di rumah besar kita, mendengar kemarahan hujan dan angin itu
Tidak lah. Tidak mau lama-lama di rumah anak-anak

Oh ya. Mata kanan saya masih tak bisa melihat
Nik tuan tahu, anak-anak mencegah saya operasi katarak
Kata dokter, berisiko buat penderita diabetes
Padahal saya ingin benar-benar melihat cicit-cicit kita

Tadi Hamka datang ke rumah
Dia ikut mamak dan niniknya mau ke sembilan hari meninggalnya Kake Nasir
Hamka pinjam sepeda cucu tetangga
Tentu saja dia cuma didudukkan di sadel
Belum sampai kaki kecilnya itu untuk menggoes

Oh ya. Nik tuan sudah bertemu Kake Nasir di sana?

IMG-20170311-WA0028

hidup!

hari ini tahun lalu

 

jam tangan pink yang sudah menemani saya bertahun-tahun yang kulitnya buluk udah retak-retak tertinggal di musholla lantai lima.

saya baru sadar jam 9 malam, pas mau pulang.

buru-buru ngecek di musholla yang udah gelap, nihil.

mungkin si pinky buluk mau tinggal di sana.

biar tuannya saja yang meninggalkan kantor itu seterusnya.

 

hidup!

ugly truth

“sepuluh ribu,” kata seorang ibu gemuk yang menghentikan mobil kami di pagar masuk menuju Senggigi.

rerumputan di bawah pohon-pohon kelapa tempat kami sering piknik dulu, sekarang sudah jarang-jarang. gantinya tumpukan sampah aneka rupa, dari plastik sampai kotoran kuda.

warung bambu di tepi pantai yang dulu cuma satu, dua, sudah beranak-pinak berjajar menutupi bibir pantai.

sekarang juga ada lebih banyak anjing di pantai ini. oh, mereka pasti mengais makanan dari tumpukan sampah tadi.

ombak tidak pernah semarah ini. air yang dulu biru, dia keruhkan. hei ombak, muntahkanlah kulit-kulit kerang cantik lagi! tidak ada jawaban.

ada satu anjing tergolek di pinggir jalan raya. bukan sedang menikmati sinar matahari jam delapan pagi. sedang menahan sakit.

hidup!, untuk mereka

Obituari

Bukan kematian Lee Kuan Yew. Tapi orang ini tidak kalah penting bagi seisi penghuni kantor Velbak. Kami memanggilnya Babe genset. Saya tidak tahu nama aslinya M. Arsad sampai tiba di pusaranya siang itu, 23 Maret 2015.

Sejak pagi, rombongan melayat Babe berkumpul di lobi. Kami bertukar cerita mulai dari kronologi Babe jatuh di kamar mandi sampai kenangan masing-masing bersama Babe.

Saya ingat terakhir kali jalan bareng Babe sepekan lalu, ketika keluar dari Halte Transjakarta Kebayoran Lama. Waktu itu Babe baru beli makan siang di warung seberang halte. Saya sengaja tidak langsung menyapa Babe. Saya memilih iseng jalan berjingkat di belakangnya lalu tiba-tiba mengagetkan. Berhasil, hehe.. Babe senyum-senyum saja, karena memang seperti itulah komunikasi kami biasanya.

Bertemu Babe tidak bisa mempertahankan muka manyun. Menyapa Babe di lobi berarti menyunggingkan senyum. Sebuah “sial” bagi pencemberut seperti saya. Tapi itu sekaligus terapi yang mujarab karena senyum seringkali bertahan beberapa menit berikutnya.

Interaksi saya dengan Babe mungkin tidak sesering penghuni Velbak lain. Saya bukan anak gaul yang sering nongkrong di warung Ibu, pos satpam, ataupun pintu depan kantor. Tapi memang kecil kemungkinan melewatkan pertemuan dengan Babe kalau piket malam atau memilih berada di kantor sampai malam.

Kalau sudah begitu, Babe menemani saya menyusuri area parkir kantor sampai jalan besar. Meski bukan satpam, Babe yang menunggui sampai angkot D01 berhenti di depan saya. Babe pun menepuk pintu angkot dan memberi isyarat pada sopir. Seolah meminta sopir mengantar saya dengan selamat.

Semua kenangan dengan Babe langsung menyergap ketika saya sampai di makamnya. Menertawakan acara hiburan televisi bersama di lobi, bertukar komentar tentang talkshow politik, nonton film action jadul, berbagi kue pernikahan, sampai sekadar candaan kecil.

Saya tidak pernah tahu tempat Babe tidur selama di kantor. Kata Gendar si resepsionis, Babe tidur di kursi lobi. Saya tidak percaya. Tapi mendengar cerita istri dan anaknya bahwa Babe jarang pulang, bisa jadi itu benar. “Pulangnya 2-3 jam, terus ke kantor lagi,” kata putri kedua Babe ketika kami berkunjung ke rumahnya sepulang dari makam.

Sepertinya memang tidak ada yang menggantikan Babe mengoperasikan genset milik Pak Gunadi, bosnya. Putri Babe lanjut bercerita betapa lamanya Babe menjaga genset. Semua dimulai dari menjadi pesuruh Pak Gunadi. Babe kemudian dipercaya mengoperasikan genset di kantor penyewa, Tempo salah satunya. “Di tempat lain Babe paling cuma 1-2 tahun. Babe paling lama di Tempo, 14 tahun,” kata Yuli, putri sulung Babe.

Babe dan Tempo sudah jadi keluarga. Dari TH sampai carep baru, Babe kenal. Kata OB, TH beruntung karena masih ngobrol lama dengan Babe pada Jumat malam, sehari sebelum jatuh di kamar mandi. Mungkin karena itu, Babe jadi tidak dekat dengan Pak Gunadi lagi dan tidak dapat santunan. “Yang ketemu saya perwakilan Pak Gunadi, ngasi duit gaji terakhir. Duitnya enggak diamplop, cuma dikepel. Apa bapak saya bukan manusia?” cerita Yuli sambil menghapus linangan air mata, saat kami ngobrol di makam.

Tempo pun tak sempurna memperhatikan Babe. Pertolongan untuk Babe bisa dibilang terlambat. Babe jatuh di kamar mandi depan kantor Sabtu subuh, hari ketika deadline dipercepat, sebagian besar awak kantor libur. Kepalanya terbentur dudukan toilet. Noto, OB, membawa Babe ke kursi lobi depan. Noto yang tadinya akan buang sampah, meninggalkan Babe sebentar. Waktu dia kembali, Babe jatuh lagi dengan posisi bahu bersandar di dinding. Rupanya Babe tadi berusaha berdiri.

Pak Beni, sopir, kemudian mengantar Babe pulang ke rumahnya di Cengkareng. Sewaktu keluarga berusaha memasukkan Babe ke ICU, RSUD Cengkareng minta jaminan uang tunai Rp 70 juta. Yuli pontang-panting mencari Pak Gunadi, juga ke kantor Tempo di malam hujan lebat campur kilat. Nihil. Rupanya Pak Aep dari Bagian Umum Tempo sedang sibuk mengurus pindahan kantor dari Velbak ke Palmerah sehingga tidak lekat memantau hapenya. SMS dari Yuli tidak berbalas.

Kata Yuli, cukup lama berselang, barulah dia dan Pak Aep bersama mengusahakan perawatan untuk Babe. Menurut Pak Aep, MTQ via telepon sudah mengizinkan untuk menjadikan nama Tempo sebagai jaminan rumah sakit. Yuli sempat menunjukkan pada kami rekaman video ketika Babe sedang kesakitan. Sebuah alat bantu pernafasan melekat di hidungnya. Mengenakan kaus kuning, Babe yang tidak sadar diri tampak menggerakkan kepalanya ke kanan ke kiri.

Cerita selanjutnya, ternyata sudah sampai di hari itu, Senin lepas subuh. “Pak, bapak saya sudah enggak ada,” pesan Yuli kepada Pak Aep. Babe sudah pergi. Meski sempat mengungkapkan kekecewaan, Yuli mengaku sudah mengikhlaskan Babe bersama proses yang dia lalui. Tinggal doa dan permohonan mengingatkan kalau-kalau Babe punya utang.

Setelah kepergian Babe, saya baru tahu kalau ternyata Babe tidak akan ikut kami ke Palmerah. Kantor Palmerah sudah punya genset sendiri, tidak perlu sewa. Mungkin juga ini di balik terus tertundanya perpindahan kantor kami, supaya Babe bisa terus bersama kami sampai akhir usianya. Mungkin.

Selamat istirahat Babe. You made beyond a genset operator. Semoga Babe sedang tersenyum di tempat yang terang, jauh lebih terang dari lampu-lampu yang dinyalakan dengan genset Babe.

hidup!

Cinta itu Anomali

MERAPIKAN KENANGAN

wedding_rings_by_andrewishy

Orang bilang aku pujangga
Tapi kau tak pernah terkesan dengan puisi-puisiku
Di muka bumi ini, ada orang-orang yang mencari bukuku ke berbagai toko buku atau ke mana saja tapi tak juga jumpa
Sementara kau, yang kuhadiahi lebih dulu kini lupa menaruhnya di mana

Aku tak mengerti.

Barangkali begitulah cinta. Ia terbang jauh melintasi batas kekaguman, terbenam dalam melampaui dasar samudera ketertarikan, dan kadang, membeku sekaligus bisu melebihi tenangnya batu kebanggaan.

Ia, seperti seringkali kubilang, lebih mirip darah: tak kita minta, tak kita rasa, tapi diam-diam menghidupi.

Itu sebabnya sesekali kita perlu terluka. Itu sebabnya sesekali kita perlu kehilangan.

Lihat pos aslinya 85 kata lagi

pengalaman

IELTS and I

photo

akhirnya saya ketemu juga sama tes satu ini. pagi kemarin, dengan persiapan yang minim :P, saya melangkah menuju lokasi tes di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat. lokasi tes yang sungguh tidak saya duga -.- soalnya saya daftar untuk tes Universitas Paramadina yang deket aja. ya sudahlah. yuk sikat.

naik ke lantai dua hotel, saya langsung disodori pemandangan orang-orang muda duduk menunggu di pintu masuk ruang tes. ada yang ngobrol, lebih banyak lagi yang baca modul latihan IELTS. dug! kelihatan dari kertas berisi grafik untuk writing task. nguik ._. seketika saya langsung noleh ke diri sendiri.

saya bawa apa? gak bawa modul latihan apapun 😛 dua buku Barron’s punya suami sengaja saya tinggal, hehe. netbuk buat buka file IELTS dari Nuri juga dibiarin nunggu di kos ^,^ bekalnya air mineral di lock and lock toska sama wallpaper hape seperti gambar di atas yang saya sadur-sunting dari sini.

saya memang memilih jalur ini, belajar sendiri. kalo dipikir sekarang, saya cukup congkak kemarin tuh. saya menolak mengeluarkan biaya untuk kelas IELTS preparation yang nyampe dua juta itu loh =.= walopun sebagian dari diri saya ingin persiapan maksimal semacam ikut les, sebagian diri saya yang lain lagi menentang keras.

rupiah untuk ikut les sih ada. waktu juga ada, kalo mau ambil kelas wiken. tapi hei, saya udah kenal bahasa bule ini dari kelas enam SD. nah, eneg gak sih. hihi. di kehidupan sehari-hari juga kan banyak lagu, film, bacaan berbahasa Inggris. plis cukup, gitu kata sisi diri saya yang males ;P kalo ngobrol sama bule-bule juga kayanya mereka cukup paham saya ngomong apa. wkwk, sok bingits.

saya juga udah paling tidak dua kali ikut tes TOEFL yang -like maupun yang official. harga tes IELTS pun 240 dolar, sodara-sodara! saya masih harus bayar les lagi??? hih. hwaaa sombong naudzubillah. tapi ya gitu deh. gak bisa bohong sama diri sendiri kalo gak rela bayar les lagi. saya anggap aja tes ini kayak Mr. Bean mau tau pemahaman bahasa Inggris saya. hhihi.

yang paling melegakan tuh dukungan suami yang nyuruh mengikhlaskan apapun hasilnya :* gak usah mikirin hasil. owowow senangnyaaa ^^ yaudah, kemarin tuh bismillah aja, ngerjainnya haha hihi huhu.

di antara semua sesi, saya paling pengen memutar waktu ke sesi speaking. sebelum tes, ceritanya saya disuru nunggu beberapa menit di depan pintu. pas pintu dibuka,  saya disambut Eugene Knight the interviewer. kalimat awal dia dong, “sorry to keep you waiting, i just scored somebody C.” maakk. dug dug.

cedihnya, saya kebagian tema sports. jeder. ini namanya bad luck. ya Alloohh, dari sejuta topik, kenapa bapake mesti ngasi topik itu ke gue x___x topik yang bukan saya banget. dari dulu, saya gak ngikutin olahraga apapun. selain alasan personal terkait keluarga, bagi saya olahraga bukan buat ditonton, tapi buat langsung dipraktekin sendiri. ekskyus banget yak. hakhak.

yang kebayang waktu itu cuma ceritain Michael Jordan. itu aja saya tau karena pas kecil nonton Space Jam dan pernah baca quote inspiring dia di suatu buku. haduh tapi dia kan udah jadul kiprahnya. puter otak lagi, yang keinget si Evan siapa namanya lupa. pokoknya yang di timnas sepakbola U-19 itu. *abis keluar ruangan baru inget namanya Evan Dimas*

tapi saya inget salah satu tips IELTS yang pernah saya baca. interviewer gak peduli fakta ato fiksi cerita kita, yang penting grammar kita. tips dari suami juga, ngobrolnya santai dan pede aja. kayak mau nunjukin kalo kita tuh ngerti bahasa mereka. ngobrol aja lalala. hhee *huft, padahal tetep nerpes* setelah sesi speaking ini baru lega deh. hih, gitu toh IELTS. *belagak lagi :v*

oiya, lumayan tes ini nambah temen saya. pas lagi nunggu, di sebelah saya duduk peserta tes dari Mozambique. seorang perempuan usia dua puluhan. tiba-tiba dia ketawa. tenyata abis ngintip wallpaper hape saya x) kami jadi tuker cerita.

namanya Elly. dia datang nyebrang pulau, dari Bontang, Kalimantan Timur cuma buat tes ini. sudah magang di PT. Badak selama setahun. penampilan udah lumayan mirip hijabers Indonesia. dia dan tujuh temannya akan berangkat ke UK untuk magang kerja lagi selama setahun juga. habis itu baru balik ke kampung halaman. program mereka ke dua negara ini dibiayai pemerintah negaranya. mereka semacam Laskar Pelangi versi Mozambique gak sih? hehe

selain Elly, saya ketemu juga sama anak-anak unyu-unyu, Ifa dan Regy. terjadilah percakapan ciwi-ciwi heboh sendiri di ruang tunggu, hihi. Ifa angkatan 2010, lulusan STT Telkom Bandung. baru udah dua minggu kerja di Accenture, perusahaan konsultan IT di Jakarta Pusat. ini kali kedua dia ikut tes. gara-gara hasil tes sebelumnya gak bisa diakses setelah dia kehilangan candidate number. ckck, adadaja. Ifa udah ikut berencana apply AAS jurusan IT untuk bisnis.

sementara Regy angkatan 2009, lulusan UI jurusan Biologi. gak tanggung-tanggung, Regy mau apply di Todai :O jurusan biologi lingkungan. mereka berdua udah pada ikut kelas preparation. Ifa di Bandung, Regy di Pare. *kemudian senam iya iyalah* gue doang deh males. haaa.

yaudah. gitu aja ceritanya. sambil minta doa kesana kemari, be whatever the score be. huhu. best of luck to every IELTS tes-taker all over the developing and under-developed countries :D!